Selamat Datang di Blog Ahl-Bayt

Saya buat blog ini sekedar sarana penyampaian informasi tentang ahl-bayt.

Mengenai Saya

Foto Saya
Dilahirkan di Jakarta. Tinggi 174 cm, berat 63 kg, kulit sawo matang, dll.

Jumat, 23 Mei 2008

Keagungan Istiqamah, oleh:Rahim Abul Husaini

Sayid Muhsin adalah putera Sayid Abdul Karim bin Sayid Ali bin Mohammad Amin bin Sayid Musa bin Sayid Haidar bin Sayid Ibrahim yang akhirnya bersambung pada Husain Dzil Dam’ah (191 H) putera sosok syahid agung Islam, Zaid bin Ali bin Husain as.

Silsilah Keluarga Amin (1371-1284 H / 1866 – 1952 M)
Dari sejumlah petunjuk yang sudah terekomendasi diketahui bahwa silsilah kaum sayid di kawasan Jabal Amil, Libanon, berujung pada Abdullah al-Mahdh bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib as. Sebab itu, Amin al-Amili adakalanya disebut sebagai sayid al-Husaini dan adakalanya pula disebut sayid al-Hasani. (Amin al-Amili, 1403 H hal.333).
Para leluhur Sayid Muhsin tinggal di Hillah, salah satu sentra kuno kaum Syiah di Irak. Namun salah satu leluhurnya -mungkin Sayid Haidar- diundang ke Libanon oleh kaum Syiah Jabal ‘Amil untuk menjadi marji’ dan pembina umat. Dia memenuhi undangan itu. Dia pindah ke Jabal Amil dan tinggal di desa Shaqra’ hingga wafat. Makamnya kini menjadi tempat peziarahan. Tahun wafat yang tertera pada batu pusaranya ialah 1175 Hijriah. (Sadr Haj Sayid Jawadi, juz 2 hal.529). Patut disebutkan bahwa penulis buku Miftahul Karamah, yaitu Al-Marhum Sayid Jawad al-Amili (1226 H) adalah cucu dari putera al-Marhum Sayid Haidar. (Amin al-Amili, ibid, hal.334)
Keluarga Amin sebelum tersohor dengan sebutan “al-Amin” lebih dikenal dengan sebutan al-Qishaqishi atau al-Qishaqeishi. Sayangnya, tidak jelas mengapa keluarga ini mendapat julukan demikian. Sebagian pakar menduga Qishaqishi adalah pergeseran kata atau terjemahan dari Aqsasi, yaitu seorang tuan tanah di sebuah desa dekat Kufah. Sebab itu penduduk desa tersebut menamai desanya dengan Aqsasi. Mereka adalah satu suku besar yang silsilahnya berujung kepada Husain Dzil Dam’ah. Mengingat salah satu leluhur Sayid Muhsin dijuluki sebagai Mohammad Amin, maka keturunannya pun mendapat julukan Aali (keluarga) Amin. (ibid hal.333).

Kelahiran, Keluarga, dan Masa Pendidikan
Sayid Muhsin terlahir ke dunia pada tahun 1284 H dari sebuah keluarga yang sangat agamis di desa Shaqra’ di kawasan Jabal Amil, Libanon. Sebab itu dia terkadang disebut al-Amili dan terkadang dijuluki as-Shaqrawi. Dan karena memiliki anak bernama Mohammad al-Baqir, maka diapun mendapat kun-yah Abu Muhammad al-Baqir.
Sebagian sejarawan modern mencatat dia lahir tahun 1282 H (Zarkali, 1410 H, juz 5, hal.287). Tetapi menurut sejumlah petunjuk yang ditulis sendiri oleh Amin dalam otobiografinya pada juz terakhir kitab A’yanus Syi’ah, yang benar adalah tahun 1284. (Amin al-Amili, ibid, hal.334).
Ayahandanya, Sayid Abdul Karim Amin, adalah sosok yang sangat bertakwa, sering berpuasa, dan sering menangis jika mengingat alam akhirat. Dalam perjalanan-perjalanannya, dia berziarah ke Baitullah dan Baitul Maqdis sebelum kemudian berziarah ke tempat-tempat suci di Irak. Ketika berniat pergi ke Iran untuk berziarah ke makam Imam Ali Ar-Ridha as, dia mengurungkan niat ini karena sepupunya yang bernama Sayid Kadzim menganjurkan supaya biaya perjalanannya dia gunakan untuk membiayai para pelajar agama. Dia menerima usulan ini dan kemudian pulang ke Jabal Amil. Tetapi dia kemudian kembali lagi ke Irak bersama anak-anak dan keluarganya dan meninggal di Najaf tahun 1315. Jenazahnya dikebumikan di area pemakaman Imam Ali as. Ibunda Sayid Muhsin juga merupakan orang yang sangat bertakwa dan pintar membina urusan rumah tangga. Dia meninggal tahun 1300 H.
Kendati ayah dan bundanya bukanlah orang yang tinggi dari segi keilmuan, tetapi keduanya sangat berperan dalam mendidik anaknya, Sayid Muhsin, di bidang ilmu-ilmu dasar semisal menghafal al-Quran, pelajaran khat, memahami berbagai syair dan sebagainya. Sayid Muhsin pernah dikirim ke suatu sekolah, tetapi dia kabur karena sekolah itu banyak menerapkan cara-cara keras. Namun ibundanya tidak lantas membiarkannya terlantar, melainkan mendidiknya sendiri. Ketika berusia 16 tahun, ibundanya wafat, dan dia pun menyusun syair-syair duka sebagai berikut;
“Wahai kubur, andai engkau tahu wanita suci yang terpendam dalam dirimu dengan bergaun keagungan itu. Wahai sebaik-baik ibu yang telah memberikan kasih sayang yang amat sangat kepada anaknya, ketahuilah bahwa puteramu adalah anak kesusahan. Kedua matamu diterangi oleh pekerjaan-pekerjaan baik dan seakan engkau tahu bagaimana anak yang patut engkau tinggalkan. Tapi ibu, dalam kecintaan dan kerinduan yang amat tiba-tiba terjadi perpisahan antara engkau dan aku. Lantas bagaimana kini aku mampu bertahan dalam perpisahan denganmu hingga hari mahsyar, dan ketika akar segala pekerjaan memudar.” (ibid.)
Sayid Muhsin adalah satu-satunya anak di tengah keluarga sehingga patut jika terjalin hubungan sedemikian mendalam antara ibu dan anak. Ibundanya adalah puteri seorang ulama dan penyair yang bernama Syaikh Mohammad Husain Falhah Meisi. Sayid Muhsin mewarisi watak penyair tentu dari kakeknya tersebut. Sedangkan kakek dari ayahandanya adalah Sayid Ali Amin Al-Amili, seorang fakih ternama di Najaf. Sayid Muhsin juga banyak menimba ilmu darinya.
Pada tahun 1291 H, setelah khatam Al-Quran dalam usia tujuh tahun dan menguasai baca tulis, dia belajar ilmu nahwu dan seni kaligrafi. Pertama dia mempelajari dan menghafal kitab Matan al-Ajurumiyah, buku kecil di bidang ilmu nahwu yang banyak diajarkan di pesantren-pesantren saat itu, tetapi sekarang lebih banyak diajarkan di pesantren-pesantren Sunni. Kemudian mempelajari kitab Qatrunnada wa Ballussada karya Ibnu Hisyam al-Ansari di bidang ilmu nahwu, dan kitab Tasrif karya Sa'duddin Taftazani hingga khatam. Dia mempelajari dua kitab ini dalam kurun waktu antara tahun 1295 H dan 1926 H dengan berguru pada sepupunya sendiri, Sayid Mohammad Husain Amin. (ibid hal.337).
Pada masa-masa ini minat bacanya terhadap kitab-kitab syair menguat sampai berpesan kepada Haji Mahmud Moruwwat, salah seorang teman ayahandanya, yang hendak pergi ke Beirut agar dibelikan buku kumpulan syair. Haji Mahmud membelikannya buku kumpulan syair karya Abu Faras al-Hamdani (357 H) yang merupakan salah satu buku kumpulan syair Arab terbaik. Ini adalah pertama kalinya dia menela’ah syair. Minatnya yang tinggi membuatnya rajin menela’ah syair-syair itu dengan sangat teliti dan banyak menghafal bait-baitnya dan dari situ cita rasanya terhadap karya sastera dan syair mulai tumbuh subur.
Tahun 1297 H, untuk melanjutkan pendidikannya dia mempelajari kitab Syarah Qatrunnada dan Syarah Ibnu Nadhim atas Alfiah Ibnu Malik di sebuah madrasah di desa Aitha az-Zath di bawah bimbingan Sayid Jawad Murtadha. Saat itu pula dia mempelajari kitab As-Syafiah Ibnu Hajib dan kitab Mughni Labib. Karena kemampuannya menggubah syair, dia lantas menggubah bait-bait syair di bidang ilmu sharaf. (Sadr Haj Sayid Jawadi, ibid.)
Sayid Muhsin kemudian menimba ilmu di kawasan Bint Jbail. Dia menemui Syaikh Musa Shararah yang baru datang dari Irak untuk belajar padanya ilmu mantiq, ma’ani bayan, ushul, dan fikih. Dia banyak menimba ilmu dari Syaikh Musa. Madrasah di Bint Jbail menjadi aktif dan sangat berkembang sejak kedatangan Syaikh Musa. Sepeninggal beliau, madrasah itu nyaris tutup dan banyak murid-muridnya yang berpencar. Sayid Muhsin sendiri kembali ke tanah kelahirannya, Shaqra’ dan tinggal di situ sampai tahun 1308. Selama di situ dia mengajar para siswa sekolah dasar sambil melakukan berbagai penelitian. (Amin al-Amili, ibid, hal. 344).

Perjalanan ke Irak
Keinginan untuk pergi ke Irak sudah lama bergejolak dalam diri Sayid Muhsin, tetapi tak kunjung terlaksana karena kondisi keuangan yang tak memungkinkan. Untuk memenuhi hasratnya yang tinggi dalam menimba ilmu, dia hanya mampu mengadakan pengembaraan ke beberapa kota Libanon sendiri, termasuk Baalbek, Sidon, dan Golan. Namun, sepeninggal Syaikh Musa Shararah dia mulai tidak betah lagi terkurung di Libanon. Upaya para tokoh setempat untuk mendatangkan para ulama Irak ke Libanon tak membuahkan hasil. Walaupun Sayid Mahdi al-Hakim memenuhi undangan ke Libanon dan memberikan bantuan finansial yang cukup besar, tetapi kondisi ini tak lama berlangsung sehingga Sayid Muhsin merasa mau tidak mau harus berangkat ke Irak. (Ibid. hal.347)
Hal ini berlansung sejak tahun 1303 dimana Syaikh Musa Shararah wafat hingga tahun 1308 dimana Syaikh Husain Mughniyah, salah seorang ulama Libanon yang pergi ke Irak memotivasi keinginan Sayid Muhsin ke Irak dan mengajaknya pergi bersama. Sayid Muhsin yang semakin menggebu ingin ke Irak saat itu sedang merisaukan kondisi ayahnya yang baru menderita tunanetra. Sang ayah menyarankannya untuk beristikharah dan bertawakkal kepada Allah. Istikharah dilakukan dan ternyata membuahkan hasil baik. Akhirnya diapun pergi bersama isteri tercintanya dan Syaikh Husain Mughniyah. Dia dan rombongan kecil itu berangkat ke Irak dari kampung halamannya pada bulan suci Ramadhan tahun 1308 dengan rute Sidon, Beirut, pelabuhan Iskandarona, Halab, dan kemudian tiba di Kadzimain dan Baghdad pada hari kedua Idul Adha. (ibid 348-350).

Tiba di Najaf
Perjalanan dari Libanon ke Irak itu menelan waktu lebih dari tiga bulan. Ketika tiba di Kadzimain, Sayid Muhsin segera berziarah ke makam Imam Musa bin Ja'far as dan Imam Muhammad al-Jawad as. Dia kemudian bertolak ke Baghdad, Karbala, sebelum kemudian tiba di Najaf.
Dia tiba di Najaf ketika kota ini sedang berada di puncak kejayaan dan keagungannya. Para penganut Syiah dari Iran, Irak, India, Pakistan, Rusia, Afrika, Asia Tengah, dan negara-negara lainnya menyerahkan zakat dan khumus mereka kepada para marji’ di sana. Sebab itu, sekolah-sekolah agama di sana benar-benar makmur. Yang lebih penting dari itu ialah keberadaan para ulama dan guru besar asal Iran di sana, termasuk Akhund Khorasani, Agha Reza Hamadani, Syaikh Abdullah Hairi Mazandarani, Sayid Mohammad Kazem Yazdi, dan Mirza Habibullah Rashti, serta para ulama besar asal Arab semisal Mohammad Taha Najafi, Syaikh Ali Rafish, Sayid Mohammad Thaba’thabai, putera Mohammad Taqi Thaba’tabai Aali Bahrul Ulum, Syaikh Abbas Ali, Syaikh Abbas Hasan Aali Kashiful Ghita’, dan Sayid Husain alQazweni yang masing-masing memiliki sekolah agama (hauzah ilmiah) untuk mengajarkan ilmu fikih dan usul.
Di luar Najaf juga ada sejumlah ulama besar, termasuk Sayid Mohammad Hasan Shirazi, marji’ besar di Samarra, dan Syaikh Zainal Abidin Mazandarani di Karbala, dan Syaikh Mohammad Taqi, cucu Syaikh Asadullah Tushtari, di Kadhimain, Sayid Ismail Sadr, dan Sayid Hasan Sadr, serta para ulama besar dan berpengaruh lainnya.
Belajar di Najaf
Tak terbayangkan lagi kegembiraan Sayid Amin ketika tiba di kota yang sangat bergelimang ilmu dan pengetahuan. Dia banyak meneguk ilmu sepuas-puasnya selama 11 tahun tinggal di Najaf. Pada pendidikan tahap atas (marhalah sath) dia mempelajari kitab-kitab Syarh Lum’ah, Qawanin, Rasa’il, dan Makasib di bidang fikih dan ushul dari guru-guru terkemuka saat itu, kemudian naik ke pendidikan tahap ahli dengan belajar Bahtsul Kharij yang juga di bidang fikih dan usul.
Berikut ini adalah para gurunya untuk pelajaran-pelajaran tertentu; Sayid Ali yang merupakan sepupunya sendiri adalah guru Syarah Lum’ah, Syaikh Mohammad Baqir Najam Abadi guru kitab Qawanin, Mulla Fatahullah Isfahani yang tenar dengan julukan Syaikh as-Syari’ah guru kitab Rasa’il, Syaikh Aghareza Hamadani dan Syaikh Mohammad Taha Najafi guru pelajaran Bahtsul Kharij. Sayid Muhsin juga pernah belajar fikih selama beberapa waktu di sisi Mirza Mohammad Hasan Shirazi di Samarra. Dia rampung mempelajari Bahtsul Kharij di sisi Mulla Mohammad Kazem Khorasani, penulis kitab Kifayatul Usul.
Semua jenjang pendidikan dia lalui dengan giat dan cermat sambil berusaha melupakan segala penderitaan hidup yang dijalaninya di rantau orang. Di tahun-tahun pertama dia selalu teringat dan merindukan ayahandanya yang sudah lanjut usia dan uzur. Keadaan ini kemudian terobati. Dia mendapat surat yang memberitahukan perihal ayahandanya yang sedang bergerak menuju Najaf bersama sejumlah tokoh masyarakat Jabal Amil. Rasa gembira yang luar biasa pun menerpa dirinya, dan sejak itu dia selalu menghitung hari dan jam untuk berjumpa dengan ayahadanya. Hari yang dinantikan pun tiba. Dia menyambut kedatangan ayahandanya di kota suci Karbala. Dia ditemani oleh gurunya, Syaikh Mohammad Taha, yang turut menyambut hangat kedatangan ayahanda Sayid Muhsin, Sayid Amin, sambil menyatakan harapannya agar dengan kedatangan ayah, sang anakpun bisa lebih betah dan lama lagi belajar di Najaf. (ibid. hal.357).

Ketenaran Sayid Muhsin di Bilad Syam
Di hauzah ilmiah Najaf, Sayid Muhsin Amin segera menjelma sebagai salah satu sosok kebanggaan kaum Syiah. Namanya pun tenar hingga di luar kota Najaf, terutama sejak dia resmi menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar sendiri dan diikuti banyak pelajar, karena pelajar adalah suporter terbaik untuk guru mereka sendiri. Sejak itu, nama sang guru, Sayid Muhsin, membahana bukan hanya di Irak, tetapi sampai ke Jabal Amil di Libanon, dan Damaskus di Suriah.
Sebagai konsekwensinya, kaum Syiah Jabal Amil dan Damaskus membuat petisi yang memohon Sayid Amin agar mendatangi dan mengayomi mereka serta menjadi marji’ panutan mereka. Permohonan ini dipenuhi oleh Sayid Amin, dan di akhir bulan Jumadistani 1319 H, yaitu setelah sekitar 10 tahun enam bulan tinggal di Najaf. Dalam usia 35 tahun dia berangkat ke Syam, Suriah. (Sadr Haj Sayid Jawadi, ibid, 530).
Di Damaskus yang menjadi negeri keduanya Sayid Muhsin Amin al-Amili menghabiskan usianya yang penuh berkah selama 15 tahun. Dia melihat kaum Syiah di Syam banyak mendapat kesulitan dan serba kekurangan, terutama di bidang pendidikan. Mereka terbelakang secara sosial, politik, dan kebudayaan serta miskin dari segi materi. Parahnya lagi, antar mereka sendiri terlibat pertikaian keyakinan dan suku serta terkungkung dalam khurafat atas nama agama dan mazhab. Ada yang menganggap pembacaan narasi Karbala sebagai bid’ah, sementara sebagian lain ada yang menyengsarakan diri pada hari-hari peringatan Asyura dengan memukul-mukul dada secara berlebihan, membelenggu tubuh mereka dengan rantai, dan melumuri badan mereka dengan lumpur, dan sebagian bahkan melukai tubuh dan kepala mereka dengan pedang dan benda-benda tajam lainnya hingga berdarah-darah.
Ini semua jelas menyalahi syariat dan menjadi bahan ejekan pihak-pihak lain. Sebab itu, Sayid Muhsin yang prihatin merasa perlu mendirikan sekolah agama dan menyelenggarakan pendidikan secara benar. Dia juga mendirikan sekolah khusus perempuan dengan memberikan mata pelajaran yang lebih relefan dengan harkat dan martabat mereka. (Ibid)
Perjuangan Melawan Khurafat dan Kemiskinan di Damaskus
Sayid Muhsin Amin yang sudah bergelar Ayatullah memulai perjuangannya dengan terlebih dahulu mengundang para pemuka kaum Syiah Damaskus dan mengajak mereka untuk memfokuskan perhatian kepada pendidikan dan perjuangan melawan khurafat dan kemiskinan. Dia mendirikan suatu perusahaan, membeli sejumlah bangunan, mendirikan dan mengoperasikan sekolah-sekolah menengah untuk masing-masing putera dan puteri dengan nama Mosheniyah dan Alawiyah. Dia sendiri mengajar selama beberapa jam dalam sehari dan memantau dari dekat seluruh perkembangan moral dan pendidikan para siswa.
Dia tentu sangat mengutamakan pendidikan agama sehingga menyusun sendiri buku-buku pelajaran di bidang akidah, hukum syariat, ibadah, mu’amalat, hukum waris, hudud, diyat, tafsir, dan akhlak. Buku-buku itu sudah beberapa kali dicetak ulang, menjadi buku pegangan di sekolah-sekolah menengah lain di Suriah dan Libanon, dan bahkan diterjemahkan pula ke bahasa Persia.
Dalam memberantas khurafat dan memperbaiki tradisi upacara duka Karbala, perjuangan Sayid Muhsin ternyata tak kalah beratnya. Dia mendapat penentangan dari berbagai kalangan di Syam dan Irak. Dia mendapat tuduhan yang bukan-bukan dan bahkan ada yang berusaha menggerakkan masyarakat umum agar menentangnya. Dia bahkan menjadi bahan cemoohan di mimbar-mimbar, majalah, dan majelis-majelis duka Asyura. Tak kurang, dia bahkan dihadiahi stigma kafir dan zindiq. Meski begitu, karena niatnya memang tulus, dia tetap berjuang melawan arus penyimpangan dengan cara menyusun berbagai strategi yang matang. Perjuangan ini tak sia-sia. Perlahan-lahan dia mulai mendapati simpati dari publik. Upacara-upacara duka Karbala yang diselenggarakan oleh kaum awam pun semakin hari semakin kurang peminat sehingga berjalan lesu.
Dalam konteks ini dia menyusun sejumlah buku berbobot tentang riwayat hidup Imam Husain dan sejarah Karbala. Satu diantaranya adalah buku berjudul Lawa’ijul Asyjan yang berisikan penjelasan tentang tragedi Karbala dan berita-berita sahih tentang syahadah Imam Husain as dan keluarganya. Kitab penting lainnya berjudul Al-Majalis as-Sunniah yang terdiri atas lima bab. Empat bab pertamanya membahas tentang riwayat hidup Imam Husain as, dan bab kelimanya membahas riwayat hidup Rasulullah saw, Fatimah az-Zahra as, dan para imam maksum as.
Setelah beredar di Suriah dan Libanon dua buku ini mendapat sambutan luas dari para ahli mimbar. Dua buku ini laris keras. Sejak berada di atas angin, dia berani mengeluarkan fatwa sebagai berikut;
“Melukai kepala dengan pedang maupun belati, mengenakan kafan, menabuh genderang, meniup terompet, dan sebagainya pada upacara-upacara Asyura adalah perbuatan haram. Perbuatan seperti ini, sesuai nash syariat suci dan hukum akal adalah perbuatan menyiksa diri dan tidak memiliki manfaat untuk agama dan dunia, dan malah mengundang ejekan dari orang-orang non-Syiah Ahlul Bait. Mereka menganggap kaum Syiah sebagai orang-orang yang liar. Karena itu perbuatan seperti ini tidak akan diridhai Allah dan rasul-Nya dan terhitung sebagai perbuatan syaitan.” (Amin Amili, Ibid. hal. 361-363 dan Sadr Haj Sayid Jawadi, ibid. hal.531).

Penentangan Terhadap Agenda Sayid Muhsin
Sebagian orang menentang pembenahan akidah yang diproyeksikan oleh Sayid Muhsin. Di kalangan awam berkembang isu bahwa dia mengharamkan upacara duka cita untuk Imam Husain as. Dia bahkan dituding keluar dari agama alias murtad. Penentangan terhadapnya bahkan dilakukan oleh sebagian orang yang mengenakan serban. Mereka memanfaatkan penolakan sebagian masyarakat awam terhadap Sayid Muhsin dengan berkata, “Sayid Amin telah membuka pasar di Damaskus, dan diam-diam telah menghalangi masyarakat mengadakan acara duka cita. Kini dia kasak-kusuk dengan hati-hati, tetapi bukan tak mungkin nanti dia akan keluar dari Islam.” (Amin Amili, ibid. hal363).
Sebagai akses dari penentangan yang ternyata berbasis di Najaf Asyraf tersebut, mereka bahkan menggerakkan para khatib untuk angkat bicara menolak pikiran-pikiran Sayid Amin. Diantara sekian khatib, orang yang paling getol adalah Sayid Soleh al-Hilli yang memang sangat berpengaruh dan berani. Dia membagi masyarakat dalam dua kelompok; satu Alawiyyin dan yang lain Umawiyyin, dan lantas mengkategorikan Sayid Muhsin Amin dan para pengikutnya ke dalam kelompok Umawiyyin. Dia meminta masyarakat untuk tidak takut kepada kelompok Umawiyyin, karena –menurutnya- jumlah mereka sangat kecil dan umumnya konservatif dan pemburu kekuasaan. (ibid hal.378-379)
Pernyataan-pernyataan Sayid Soleh sangat berpengaruh di kalangan awam sehingga banyak orang yang mudah melontarkan tuduhan yang bukan-bukan terhadap Sayid Muhsin dan bahkan mengkategorikannya sebagai kelompok Bani Umayyah. Sayid Soleh bahkan juga menunjukkan keberaniannya ketika Ayatullah Sayid Abul Hasan Isfahani mengeluarkan fatwa haram untuk tindakan-tindakan melukai diri pada upacara peringatan Asyura. Sayid Soleh menentang fatwa itu sehingga terjadi perpecahan di tengah para ulama dan pelajar agama.
Tak kurang, pemikir sekaliber Syaikh Abdul Husain Sodiq dan Sayid Abdul Husain Syarafuddin di Libanon juga menentang Sayid Muhsin dan fatwa Sayid Abul Hasan Isfahani. Para pelajar Jabal Amil di Najaf pun juga lebih gigih menentang Sayid Muhsin. Di pihak lain, sejumlah ulama besar semisal Sayid Mahdi Qazwini di Basrah, Sayid Hibatudin Syahristani di Baghdad, dan Ustad Jakfar Khalili di Najaf mendukung gerakan reformasi Sayid Muhsin. Mereka mendukung fatwa Ayatullah Sayid Abul Hasan yang mengharamkan aksi melukai diri dan mengenakan kafan pada upacara mengenang Asyura. Diantara dua pihak terdapat kelompok moderat semisal Syaikh Abdul Karim Jazairi, Syaikh Ali Qummi, dan Syaikh Jakfar Badiri, yang meskipun tidak setuju dengan pendapat Sayid Muhsin Amin tetapi lebih memilih sikap berhati-hati dan berusaha meredakan gejolak. (ibid hal.379).
Penentangan terhadap gerakan reformasi Sayid Muhsin di Najaf dan kota-kota lain terus merebak. Para pengikut upacara Asyura yang melukai diri dengan benda tajam kian banyak. Perkembangan demi perkembangan pun sampai ke telinga Sayid Muhsin. Ustad Jakfar Khalili yang menjalin hubungan dekat dengan Sayid Muhsin mencoba melawan penentangan itu dengan menerbitkan majalah “Fajar Sadiq”. Dia ingin melancarkan serangan balik terhadap khatib masyhur Sayid Soleh Hilli. Dalam rangka ini dia mengajak Syaikh Muhammad Ali Ya’qubi yang juga seorang orator dan tinggal di Ja’arah dekat Najaf untuk bekerjasama. Syaikh Muhammad pun tak keberatan. Dengan tak kalah lantangnya, Syaikh Muhammad menyerukan kepada para pelajar dan masyarakat untuk mendukung gerakan reformasi yang dipelopori Sayid Muhsin Amin dan membela fatwa Ayatullah Sayid Abul Hasan Isfahani. Perjuangan melalui orasi berhasil mematahkan orasi pihak lawan, Sayid Soleh Hilli. Akhirnya, julukan Umawiyyun yang dilekatkan kepada Sayid Muhsin pupus untuk selamanya.
Kunjungan Kembali ke Najaf Asyraf
Menindaklanjuti keberhasilan gerakan reformasi Sayid Muhsin, Ustad Khalili yang telah berperan besar dalam keberhasilan ini bertolak ke Damaskus. Begitu sampai dia segera menemui Sayid Muhsin di rumahnya yang berada di sebelah sekolah Muhsiniah. Di situlah Syaikh Khalili memberitahukan seluruh perkembangan di kota Najaf serta memastikan kondisi sudah sangat kondusif.
Usai kunjungan Ustad Khalili ke Najaf, segera terdengar oleh masyarakat rencana kunjungan Sayid Muhsin ke Najaf. Namun, semua pendukung Sayid Muhsin justru keberatan dengan rencana Sayid Muhsin. Sebagian dari mereka mengirim surat dan menyatakan bahwa kunjungannya ke Najaf tidak akan membawa maslahat untuk saat ini. Tetapi Sayid Muhsin yang memang pemberani dan terus berpikir progresif malah beranggapan bahwa ini adalah saat yang terbaik untuk berkunjung ke Najaf.
Sayid Muhsin pun berangkat. Beritanya segera tersiar ke segenap pelosok Irak. Ayatullah Sayid Abul Hasan Isfahani mengumumkan kepada para ulama dan masyarakat umum agar menyambut kedatangan Sayid Muhsin. Nyaris di luar dugaan, sambutan untuk Sayid Muhsin begitu meriah, antusias, dan sulit dicarikan tandingannya dalam sejarah Najaf. Dia disambut oleh para ulama, tokoh, pengusaha, dan masyarakat dari berbagai lapisan. Syaikh Kalu al-Habib yang tadinya termasuk tokoh paling getol menentang Sayid Muhsin juga menyambut dari dekat dan menjabat tangan Sayid Muhsin lalu menciumnya dan berkata, “Laknat Allah bagi orang yang telah menipuku. Alangkah cemerlangnya wajahmu yang penuh dengan keimanan. Maafkan aku atas segala prasangka burukku terhadapmu.” (ibid. hal.380)
Sayid Muhsin di Najaf menjadi tamu kehormatan marji’ besar Sayid Abul Hasan Isfahani. Setelah itu, sesuai persetujuan Ustad Khalili, dia mendatangi ulama besar Syaikh Khalil Mughniyah untuk mengadakan pertemuan dengan para pelajar dan tokoh Jabal Amil. Syaikh Khalil yang baru pertama kali berjumpa dengan Sayid Muhsin duduk bersimpuh di depan Sayid Muhsin. Para tokoh Jabal Amil yang tadinya ikut mempromosikan penentangan terhadap Sayid Muhsin menunjukkan perilaku penyesalan. Hanya saja, mereka berharap dengan amat sangat agar Ustad Khalili tidak mengungkap sikap mereka dahulu itu. (ibid.)
Alhasil, para ulama Najaf benar-benar menghormati Sayid Muhsin Amin dan cukup lama mereka merayakan kedatangan Sang Sayid. Sang Sayid sendiri cukup lama berada di Najaf sehingga tak ada lagi yang tersisa dari stigma Alawiyyun dan Umawiyyun. Saat itulah beliau mendapat kesempatan untuk menerbitkan program-program dan pandangan-pandangan reformasinya dalam sebuah risalah berjudul “at-Tanzih”.

Merebaknya Wabah Penyakit Kuning pada Perang Dunia I
Perang Dunia I pecah pada tahun 1332 H ketika Allamah Sayid Muhsin berada di Jabal Amil. Dia berpikir untuk memindahkan keluarganya ke Damaskus dengan harapan tidak terlalu banyak terkena dampak perang. Karena itu dia menjual semua harta bendanya di Shaqra' dan mengungsi ke Damaskus. Namun, bahaya perang di Damaskus ternyata tak kalah besarnya sehingga dia kembali lagi ke Jabal Amil.
Saat itulah merebak wabah angin kuning. Sedemikian ganasnya penyakit ini sehingga di dusun kecil seperti desa Shaqra’ pun hanya dalam satu hari saja penyakit ini merenggut nyawa 12 orang. Masyarakat pun ketakutan sampai-sampai enggan mengurus jenazah saudara kandung sendiri, apalagi jenazah orang lain. Mereka ingin supaya semua jenazah dimakamkan tanpa dimandikan dan dikafani. Namun, Sayid Muhsin yang berada di tengah masyarakat meminta masyarakat sudi mengurus jenazah dengan memandikan dan memakamnya. Dia sendiri harus bersusah payah untuk masalah ini, apalagi terkadang tidak ada orang yang bersedia mengusung keranda jenazah sehingga diusung oleh Sayid Muhsin sendiri.
Bertahun-tahun Sayid Muhsin menjalani hidup dengan susah payah, dan di situ beliau lebih dikenal lagi sebagai sosok ulama yang benar-benar memikirkan dan mengatasi problema masyarakat. Di saat itu pula dia bahkan ikut berusaha mengatasi konflik-konflik lokal yang ditimbulkan oleh Perang Dunia I. Dia sempat keluar dari Jabal Amil dan berkunjung ke beberapa kawasan termasuk Hermel untuk mengatasi gejolak dan konflik bernuansa etnis. (ibid. 366-368)

Kembali ke Damaskus
Setelah Perang Dunia I mereda, dia kembali ke Damaskus dengan persetujuan segenap ulama dan pemuka Jabal Amil untuk mengikuti acara penobatan Pangeran Faisal sebagai Raja Damaskus. Dia ikut menyampaikan ucapan selamat kepada Raja Faisal. Menurut pernyataannya sendiri, peristiwa ini terjadi tahun 1339 H. Saat itu pasukan Inggris keluar dari Suriah, tetapi pasukan Perancis masih bertahan hingga satu tahun kemudian. (ibid. hal 369)
Perhatian Kepada Kaum Syiah dan Ikhtilaf Sunnah-Syiah
Ketika Perancis eksis di Suriah, Sayid Muhsin gigih memperjuangkan kemerdekaan umat Islam serta hak dan kesejahteraan kaum Syiah. Dia juga tak pernah jenuh berjuang menegakkan budaya dan moralitas kaum Syiah. Dia bahkan mendirikan sebuah lembaga pemulihan kaum perempuan yang menyimpang. Di bidang pendidikan para siswa, dia telah memberikan berbagai langkah besar. Dalam hal ini dia yang pernah mengenyam masa-masa sebagai pelajar dan tahu persis betapa sulitnya memahami keterangan dalam kitab-kitab kuno dan adanya diskusi tidak terlalu banyak membuahkan hasil, akhirnya menyusun buku-buku pelajaran untuk berbagai jenjang pendidikan.
Dia juga menyusun buku-buku serta menulis artikel tentang Syiah dengan tujuan mengangkat status Syiah di tengah masyarakat Muslim Suriah dan Libanon. Dalam banyak hal dia berhasil mengatasi berbagai kesalahpahaman sehingga kerukunan, saling pengertian, dan persatuan antar penganut mazhab Islam menjadi lebih terasa. Visinya yang besar untuk persatuan membuatnya diakui sebagai pemimpin oleh kaum Syiah maupun Sunni. Dalam kasus pengharaman aksi melukai diri dalam peringatan Asyura, banyak ulama dan da’i yang tadinya berprasangka buruk terhadapnya akhirnya menyesal setelah melihat kejujuran dan ketulusan Sayid Muhsin. Mereka menyatakan penyesalan dengan berbagai macam cara dan gaya penuturan.

Aktivitas Politik Sayid Muhsin Amin di Damaskus
Allamah Sayid Muhsin Amin ternyata bukan sekedar ulama dan agamawan, tetapi juga seorang pejuang kemerdekaan Suriah. “Gerakan Pembebasan Nasional Suriah” dan aksi mogok rakyat Suriah selama enam bulan di tahun 1355 H yang berhasil memaksa kaum asing keluar dari Suriah adalah gerakan yang bermula dari dalam rumah Sayid Muhsin. Lebih jauh, untuk memancing perhatian bangsa-bangsa Arab dan Dunia Islam kepada masalah Palestina dan bantuan untuk bangsa Palestina, dia gigih mencari dan mengumpulkan bantuan untuk Palestina, menggugah kesadaran orang melalui ketajaman retorika dan kepiawaian menulis.
Sayid Muhsin adalah satu-satunya agamawan Muslim Syam yang tidak pernah menunjukkan mukanya kepada imperialis Perancis. Undangan Komisaris Tinggi Perancis untuknya tidak pernah ia gubris. Secara terbuka dia menegaskan bahwa dirinya adalah pengemban tugas Ilahi, bukan orang suruhan Komisaris Tinggi Perancis. Ketika seorang petinggi Perancis datang ke rumah Sayid Muhsin Amin sambil melontarkan cibiran terhadap Raja Faisal I, Sayid mengatakan;
“Karena Anda berada di rumah saya dan status Anda adalah tamu, maka sudah kewajibanku untuk tidak mengeluarkan pernyataan menghina, tetapi ketahuilah bahwa sesuai kesaksian sejarah, cara-cara kotor tidak akan selamanya dapat menaklukkan kebenaran. Ketahuilah bahwa suatu saat nanti bangsa Arab Suriah akan dapat merebut haknya dari kalian. Mereka akan menang atas kalian.” (ibid. hal. 532)
Kepada kaum Syiah di Suriah Sayid Muhsin menjelaskan bahwa perjuangan bangsa Iran melawan Inggris melalui “revolusi tembakau” adalah pelajaran penting bagi seluruh bangsa pendamba kebebasan. Bangsa manapun yang bertekad untuk berdiri di kakinya sendiri pasti akan berhasil, dan tidak akan ada imperialis yang dapat membendung tekad suatu bangsa. Sayid Muhsin sendiri konsisten dengan apa yang dikatakannya dan karena itu dia sangat dicintai rakyat. Sikap-sikap politiknya terhadap keputusan-keputusan Perancis sangat rasional dan berani.
Ketika Perancis mengesahkan “UU Thawaif ” yang membagi-bagi warga Muslim berdasarkan suku dan etniknya, Sayid Muhsin menunjukkan penentangan keras dan menyebutnya sebagai produk hukum yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Penentangan ini kemudian diikuti oleh sejumlah ulama lain. Mereka ikut menuntut pencabutan UU tersebut. Tuntutan pun menguat dan Perancis pun terpaksa menon-aktifkan UU Thawaif dan kemudian mendeklarasikan bahwa UU ini hanya berlaku untuk warga Muslim Sunni.
Deklarasi inipun ditentang keras oleh Sayid Muhsin. Dia membuat statemen dalam dua bahasa, Arab dan Perancis, yang dimuat oleh berbagai surat kabar menegaskan bahwa umat Islam adalah umat yang satu dan tidak bisa disekat dengan sebutan Sunnah-Syiah. Teks statemen ini tercatat di jilid X kitab A’yanus Syi’ah hal.370.
Perancis kemudian mengambil keputusan untuk mengangkat Sayid Muhsin sebagai pemimpin besar kaum Syiah Libanon dan Suriah sekaligus kepala urusan wakaf dan sejumlah jabatan lainnya. Dengan cara ini para penguasa Perancis berharap Sayid Muhsin tidak vokal lagi. Mereka mengira Sayid Muhsin adalah sosok yang dapat dirayu dengan jabatan. Mereka pun mengirim delegasi untuk menghadap Sayid Muhsin dengan penuh hormat dan takzim sambil menyerahkan surat keputusan (SK) pengangkatan. Tetapi Sayid Muhsin merespon SK itu dengan mengatakan; “Katakan kepada pemilik keputusan ini bahwa aku tidak akan pernah menjejakkan kakiku untuk datang kepadanya, tidak akan menggoreskan penaku tentang itu, dan tidak akan pula berkata-kata dengan lisanku tentang itu.” (Amin Amili, ibid hal.370)
Mendapat respon negatif, para penguasa Perancis mengirim lagi utusan khusus untuk meyakinkan Sayid. Mereka juga mendorong para pemuka Libanon dan Damaskus agar membujuk dan memotivasi Sayid agar menerima SK. Namun begitu, semua cara ini tak mampu meluluhkan sikap Sayid. Penolakan terhadap semua program Perancis dan bahkan eksistensi negara imperialis ini di Suriah adalah harga mati yang tak dapat ditawar lagi.
Perjuangan Sayid Muhsin tidak sia-sia. Tahun 1355 H perjuangan ini menghasilkan kemerdekaan Suriah. Pasca kemerdekaan, rakyat Suriah merasa memerlukan pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Mekanisme pembentukannya pun mengarah kepada pemilu untuk menetapkan jumlah kursi Sunnah-Syiah. Dengan mekanisme ini, kaum Syiah berada dalam posisi minoritas. Sayid Muhsin menentang pemilu yang bertolak dari sentimen mazhab. Ini bukan saja karena Syiah akan terpojok dalam posisi minoritas, tetapi yang lebih penting dari itu ialah pengkotakan itu sendiri.
Sebab itu dia melayangkan surat kepada pemerintah menyatakan bahwa kaum Syiah menganggap umat Islam sebagai umat yang satu. Syiah tidak ingin dipisahkan dari saudara-saudara mereka yang bermazhab Sunni. Pesan ini disambut baik oleh seluruh warga Suriah sehingga pemerintah kemudian membuat ketetapan demikian; “Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang satu. Tidak ada bedanya antara Muslim Sunni dan Muslim Syiah. Karena itu kursi-kursi perwakilan untuk warga Muslim Suriah adalah milik Sunni dan Syiah.” (ibid.) Karena jasanya yang besar dan pengaruhnya yang kuat di tengah masyarakat dan ulama, Sayid Muhsin dan pikiran-pikirannya sangat dihormati oleh pemerintah Suriah.
Kunjungan Keagamaan dan Ziarah Allamah Muhsin Amin
Tahun 1321 H Sayid Muhsin Amin bertolak dari Damaskus menuju Baitullah Ka’bah bersama keluarganya. Dia datang ke Hijaz melalui Laut Mediterania menuju Mesir. Dia melintasi kota Pur Said dan Ismailiyah kemudian tiba di Kairo. Di ibu kota Mesir ini dia berziarah ke maqam “Ra’s al-Husain”, kemudian berziarah ke makam Muhammad bin Abu Bakar dan Imam Syafi’i sebagai penghormatan kepada keduanya. Dia juga mengunjungi Piramida sebelum kemudian ke Universitas al-Azhar. Sayangnya dia tidak lama mengunjungi universitas ini karena dia datang ke sana di saat hari-hari liburan. Selama di Mesir dia dilayani oleh orang-orang Suriah yang bermukim di Mesir.
Dari pelabuhan Pur dia menyeberang menuju Hijaz dan tiba dengan selamat di Tanah Suci Mekkah. Usai menunaikan haji tamattu’ dia pergi ke Madinah al-Munawwarah dan berziarah ke makam Nabi Besar Muhammad saw. Setelah itu dia langsung kembali ke Damaskus. Dalam perjalanan pulang dia ditemani oleh Mirza Ali Asghar Khan, petinggi Iran yang diisolasi dari negara ini. Di Damaskus Mirza Ali mengunjungi sekolah Alawiyyah dan memberikan bantuan dana serta membuatkan bangunan baru untuk makam Hazrat Ruqayyah.(ibid. hal.364).
Di tahun yang sama, Sayid Muhsin Amin berkunjung ke Madinah untuk kedua dan ketiga kalinya untuk melihat dari dekat kondisi kaum Syiah yang saat itu bermasalah dengan penduduk asal Mekkah di Madinah. Setelah mempelajari semua duduk persoalannya, dia ikut mengupayakan penyelesaian masalah tersebut. (ibid. hal.364-365)
Di tahun yang sama Sayid Muhsin berkunjung ke Baitul Maqdis dan pasca perang Dunia I (1332-1336 H) dia juga kembali berkunjung ke Baitul Maqdis. Dalam kunjungan ini dia berkenalan dengan ritus-ritus ibadah agama Yahudi dan Nasrani sehingga memiliki pengalaman tersendiri dalam hal ini. Pada tahun 1341 dia dapat berziarah lagi ke Baitullah al-Haram. Selain menambah pengalamannya, kepergiannya kali ini juga disertai oleh sahabat-sahabat yang lebih baik. Dari segi keuangan dia juga tidak mendapat problema apapun. Perjalanannya ini dia abadikan dalam buku berjudul “Rihlatun Majaziyah”. (ibid. hal. 366).
Di tahun 1352 H dia berkunjung ke Iran dengan tujuan berziarah ke makam suci Imam Ali ar-Ridha as di Masyhad. Tak tanggung-tanggung, dia tinggal di Iran sekitar sembilan bulan. Dia memasuki Teheran, ibu kota Iran, tepat hari Jumat 9 Rabi’ul Awal 1352 H.
Di mata umat Islam Iran dia dipandang sebagai sosok pemimpin reformis Syiah. Ayatullah Sayid Abul Hasan Isfahani sebelumnya juga telah memperkenalkan siapa dia sekaligus menyampaikan sejumlah imbauan kepada para ulama di Iran. Sebab itu, tak aneh jika di Iran dia mendapat sambutan luar biasa dari para ulama, pelajar, dan para pejabat pemerintahan, baik di Teheran maupun di pelbagai kota Iran lainnya. Dia menghadiri acara peresmian Universitas Ma’qul wa Manqul dan memberikan kata sambutan yang memotivasi para pelajar. Dia juga merespon baik permohonan masyarakat agar dia tampil sebagai imam Jumat dan solat jamaah. Dalam buku A’yanus Syiah dia menyatakan ucapan terima kasihnya kepada pemerintah dan bangsa Iran atas sambutan luar biasa tersebut. Dia menuliskan, “Lidah dan pena saya tak sanggup menggambarkan besarnya penghormatan dan kecintaan bangsa Iran kepada saya.” (Sadr Haj Sayid Javadi, ibid. hal.531)

Para Guru dan Murid Sayid Amin
Masa-masa pendidikan Allamah Mushin Amin sebagian besar habis di Jabal Amil dan Najaf. Guru pertamanya di Jabal Amil adalah sepupunya sendiri, Sayid Muhammad bin Sayid Abdullah, yang antara lain mengajarkannya suatu bagian dari ilmu sastera Arab. Sayid Amin kemudian menyelesaikan pendidikan sasteranya di sisi Sayid Javad Murtadha di Aita az-Zath yang masih merupakan wilayah Jabal Ami. Setelah itu dia pergi ke kawasan Bint Jbail mempelajari ilmu mantiq dan ushul fikih di sisi Sayid Najibuddin Fadhlallah al-Amili al-Itsayi.
Adapun para gurunya di Najaf, pertama adalah Sayid Ali bin Sayid Mahmud, juga sepupunya sendiri, yang mengajarinya kitab Syarah Lum’ah. Pada tingkat lebih atas dia belajar kepada para guru yang diantaranya adalah Sayid Ahmad Karbala’i, Syaikh Muhammad Baqir Najm Abadi, dan Syaikh Mulla Fatahillah Isfahani yang tenar dengan julukan Syaikhussyari’ah. Untuk Bahtsul Kharij dia belajar pada kuliah guru besar Syaikh Mulla Kadzim Akhund Khurasani, penulis kitab Kifayatul Ushul. Sedangkan di bidang fikih tingkat senior dia juga belajar pada sejumlah guru terkemuka, termasuk Syaikh Haji Aghareza Hamadani dan Syaikh Muhammad Taha Najaf. Pada guru-guru inilah dia mulai memasuki jenjang ijtihad dan kemudian bergabung ke dalam barisan para ulama terkemuka dan sukses di Najaf.
Setelah lulus pendidikan senior, Allamah Sayid Muhsin Amin tampil sebagai guru yang cukup banyak memiliki murid diantaranya; 1. Sayid Hasan Amin bin Sayid Mahmud; 2. Sayid Mahdi Ali Ibrahim Husaini al-Amili; 3. Syaikh Munir ‘Asiran; 4. Sayid Amin bin Sayid Ali Husaini al-Amili; 5. Syaikh Ali bin Syaikh Muhammad al-Amili al-Hadatsi; 6. Syaikh Abdullatif Syibli Nasir al-Amili al-Haditsi; 7. Ustad Adim Taqi Dimasyqi; 8.Syaikh Mustafa Khalil Shuri yang meninggal dunia dalam usia muda; 9. Syaikh Khalil Shuri; 10. Syaikh Ali Shuri; 11. Syaikh Samr Hamshi Ghuri; 12. Syaikh Ali Syami’ Hamshi Ghuri; 13. Syaikh Ali Jamal Dimasyqi. (Amin Amili, ibid. hal.371).
Karya Ilmiyah
Ayatullah Sayid Muhsin Amin meninggalkan sejumlah karya tulis yang sangat berharga untuk masyarakat Islam yang beberapa diantaranya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa non-Arab. Sebagian besar karya tulisnya memiliki antara 500 hingga 700 halaman. Karya beliau yang paling berharga dan cemerlang adalah A’yanus Syi’ah, sebuah buku yang merupakan hasil dari perjalanan hidupnya. Buku ini yang terdiri atas 10 jilid tebal dan 53 bagian ini sampai sekarang terus dicetak ulang. Pada bagian ke-52-nya adalah riwayat hidupnya sendiri. Bagian ini banyak dimanfaatkan penulis dan kolumnis ketika membahas ketinggian ilmu Sayid Muhsin dan kehebatan sepak terjang politik dan kebudayaannya.
Sesuai yang ditulisnya sendiri pada bagian ke-52 dari kitab A’yanus Syi’ah halaman 371 dan 372, karya-karya tulis lain Sayid Muhsin Amin ialah sebagai berikut;
1. Naqhdu al-Wasyi’ah, yaitu buku yang membantah buku al-Wasyi’ah karya Musa Jarallah Zamakhsyari. Dalam buku al-Wasyi’ah, Zamakhsyari telah melontarkan sejumlah tuduhan terhadap Syi’ah yang kemudian dibantah oleh Sayid Muhsin Amin. Buku ini juga berulang kali dicetak.
2. Lawa’ij al-Asyjan yang mengupas sejarah Karbala.
3. Tarikh Jabal ‘Amil.
4. Asdaqul Akhbar fi Qisshatil Akhdzi Bits-tsar.
5. al-Bahruzzihar fi Syarhi Ahaditsil A’imatil Athar. Hanya tiga jilid dari buku ini yang dicetak.
6. Syarah Isaghuchi, tentang ilmu logika.
7. Irsyadul Juhhal, membahas prinsip-prinsip akidah.
8. Addaruts-Tsamin fi Usuliddin, jilid pertamanya saja yang dicetak.
9. at-Taqlid Afatul uqul, membahas tentang akidah.
10. Hadzful Fudhul ‘an Ilmil Usul.
11. Hawasyi al-Ma’alim, buku yang ditulisnya ketika dia mempelajari kitab Ma’alim.
12. Hasyiyatul Qawanin.
13. Addarul Munadhdham fi Mas’alati Taqlidil A’lam.
14. Asas asy-Syari’ah, tentang ilmu fikih yang satu jilidnya saja yang dicetak.
15. Arjuzatu fin-Nikah.
16. Tahfatul Ahbab fi Ahkami Adabit-Tha’am was-Syarab.
17. at-Tatriyah li A’malittasybih, tentang etika dalam peringatan Asyura.
18. Jawabatul Masa’il ad-Dimasyqiyyah.
19. Jawabatul Masa’il as-Shafyitiyyah.
20. Jawabatul Masa’il al-‘Iraqiyyah.
21. Janahan Nahidh ila Ta’allumi Fara’idh.
22. Kasyful Ghamidh fi Ahkamil Fara’idh terdiri dari dua jilid tebal tentang hukum waris.
23. Safinatul Kha’idh fi Bahril Fara’idh.
24. Hawasyi al-‘Urwatul Wutsqa, sebuah risalah amaliyah untuk para pentaklid.
25. Ar-Raudhul Aryadh fi Ahkami Tasharufatil Maridh.
26. Ad-Durus ad-diniyyah, terdiri atas sembilan jilid.
27. Syarh at-Tabshirah.
28. Durarul ‘Uqud fi Hukmi Zaujatil Gha’ibi walMafqud, tentang hukum wanita yang kehilangan suaminya.
29. Durusul Haidh, wal Istihadhah, wan Nifas.
30. Ad-Daruts Tsamin, tentang berbagai persoalan penting fikih yaitu kesucian (thaharah), solat, zakat,humus, puasa, dan pengurusan jenazah. Buku ini berulangkali dicetak.
31. ad-Durratul Bahiyyah, tentang penerapan standar-standar fikih bagi masyarakat umum.
32. Kasyifatul Qina’ fi Ahkamir Radha’, bait-bait syair tentang hukum menyusui anak.
33. Shafwatus Shafa fi Ilmin Nahwi.
34. Al-Ajurumiyyatul Jadidah fi Ilmit Tashrif, dua kali dicetak.
35. Al-Munif fi Ilmit Tashrif, juga dua kali dicetak.
36. Hasyiyatul Muthawwal
Sayid Muhsin juga memiliki berbagai karya tulis dalam bentuk artikel-artikel yang menanggapi dan mengkritik lawan-lawan pendapatnya yang fanatik. Dalam hal ini, artikelnya yang paling penting ialah tanggapan dan kritikan atas pendapat Rasyid Ridha. Artikel itu dimuat di majalah Al-Manar. Artikel penting lain semisal Asy-Syi’ah wal Manar, al-Husun al-Mani’ah, dan Du’at at-Tafriq dimuat dalam majalah Irfan.
Dia juga menuangkan kritikan terhadap akidah Wahabi dengan menyusun buku berjudul Kasyful Irtiyab fi Atba’ Muhammad bin Abdul Wahhab (Mengungkap Keraguan Para Pengikut Muhammad bin Abdul Wahab). Buku ini berulangkali dicetak, dan di catatan kakinya terdapat 400 bait syair tentang tema-tema yang dibahas. Dia juga memiliki berbagai catatan perjalanan yang kemudian diterbitkan oleh sepupunya, Dr. Sayid Hasan Amin dengan judul Rihlatus Sayyid Muhsin al-Amin. Beberapa catatan perjalanan lain, diantaranya ar-Rihlah al-Hamshiyyah dan ar-Rihlah al-‘Iraqiyyah, dimuat dalam buku lain berjudul ar-Rahiq al-Makhtum. Allamah Amin juga menyusun beberapa buku khusus yang mengomentari perihal para penyair kesohor Arab dan Islam diantaranya, Abu Tamam at-Thabi, Abu Firas al-Hamadani, dan Abu Nawas. Buku ini diterbitkan dengan cetakan lux.
Dalam berbagai karya tulisnya, Allamah Amin juga sangat peduli kepada masalah persatuan Sunnah-Syiah. Tentang ini dia menulis buku khusus berjudul al-Haq al-Yaqin fit Ta’lif Bainal Muslimin. Mengenai riwayat hidup dan keutamaan Ahlul Bait dia menulis buku berjudul al-Majalis as-Sunniyah fi Manaqib al-‘Itrah an-Nabawiyyah.

Ketiadaan Sang Bintang Damaskus
Sayid Muhsin Amin, sang bintang kejora Damaskus, pada akhirnya digerogoti usia. Vitalitas tubuhnya terus melemah dan kemudian jatuh sakit ketika usianya memang sudah senja. Dia dilarikan ke rumah sakit Beirut, tetapi dia dan dokter yang berusaha mempertahankan hidupnya tak kuasa menahan takdir. Hari Rabu sekitar pukul 23:00 dan pada tanggal 4 Rajab 1371 atau tahun 1952 M arwahnya terbang ke langit keabadian. Kepergian manusia agung dan besar ini segera menjadi berita menggemparkan yang diumumkan ke seantero Libanon melalui radio negara ini. Berita ini kemudian merambah ke negara-negara Arab dan Islam lainnya melalui media elektronik dan cetak.
Dunia Islam pun berkabung atas kepergian sang kejora. Berbagai surat kabar memuat memoar dan ungkapan belasungkawa. Acara-acara berkabung atas kepergian manusia besar ini bahkan tidak hanya berlangsung di negara-negara Islam, tetapi bahkan juga dilaksanakan oleh umat Islam di benua Amerika dan Afrika.
Prosesi dan acara penghormatan terakhir untuk jenazahnya yang agung di Beirut pada hari Senin 5 Rajab 1371 H diikuti oleh para pejabat pemerintah, pemimpin partai, akademikus, kalangan hauzah, pengusaha, dan para anggota masyarakat dari berbagai kalangan. Jenazahnya kemudian dibawa ke Damaskus. Di ibu kota Suriah ini, prosesi masih berlangsung secara kolosal, terutama ketika jenazahnya dibawa berputar mengelilingi makam Hazrat Zainab binti Ali bin Abi Thalib as. Jenazah kemudian disemayamkan di tanah pemakaman Bab al-Kabir, Damaskus.
Tak selesai di situ, acara-acara berkabung untuk Allamah al-Amin bahkan berlanjut sampai berbulan-bulan. Di Teheran, ibu kota Iran, tepatnya di area makam Hazrat Sayid Abdul Adhim di distrik Rey, masyarakat Muslim Iran juga menggelar acara berkabung untuk Sang Kejora Damaskus. (ibid. hal. 422)

Referensi
Artikel ini mengacu pada beberapa referensi yang terbatas, tetapi yang terpenting adalah referensi berupa otobiografi yang ditulis Ayatullah Muhsin Amin di bagian akhir buku monumentalnya yang berjudul A’yanus Syi’ah. Beberapa referensi lainpun sebenarnya juga lebih banyak mengacu pada buku tersebut. Atas dasar ini, pemaparan beberapa referensi itu semata-mata ditujukan agar para pembaca yang mulia dapat menyimak sendiri referensi tersebut sebagai berikut;
· Agha Buzug Tehrani, Muhsin, al-Dzari’ah ila Tasanifis Syi’ah, Darul Adhwa’, Beirut, 1400 H.
· Amin Amili, Muhsin, A’yanus Syi’ah, diteliti oleh Sayid Hasan Amin, Darut Ta’aruf lil Mathbu’at, Beirut juz 10, 1403 H.
· Zarkali, Khairuddin, al-I’lam, Darul Ilmi lil Malayin, Beirut, 1410.
· Sadr Haji Sayid Jawadi, Da’iratul Ma’arif Tasyayyu’, Entesyarat Sa’id Maji, Tehran, 1379.
· Sadr, Hasan,Takmilat Amalil Amal, Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi, Qum,1406 H.
· Kadhimi, Muhammad Saleh, AhsanulAtsar, Bi Na,Tehran.
· Kadhimi, Mohammad Mahdi, Ahsanul Wadhi’ah, Bi Na, Tehran, juz 2.
· Majalah Majma’ul Ilmil ‘Arabi No.29.
· Majalah al-‘Irfan, April 1928 M.
· Modarres Tabrizi, Mohammad Ali, Raihanatul Adab fi Tarajumil Ma’rufin bil Kun-yati wal Laqab, Kitab Furushi Khayyam, Tehran, 1374 Hijriah Syamsyiah.

Tidak ada komentar: